01 September 2008

Tercerabut Tiada Pantas

Membiarkan diri tercerabut
Mengatur langkah menjauh pergi
Meski tertatih menahan keperihan rasa
Menjauhkan diri karena tiada pantas

Semua kini telah berlalu
Seiring waktu tak henti berdenyut
Menyingkap rahasia yang terkubur lapuk
Menyeruak tanya tambahkan perih

Ada apa dengannya…
Tak tercerabut meski juga tak pantas
Tetap menghirup udaramu dengan senyumnya
yang kalian hapus dari bibirku

Kutelan ini dengan terpaksa
Membiarkan diri tercerabut dan terusir
Menyadarkan diri akan sebuah arti
Aku… Akulah yang tidak diinginkan

4 komentar:

Abdul Waris daeng nyompa on 08/10/08 05.15 mengatakan...

bangsat...
bayar kreditan celana dalammu
liat tuh
spermamu berceceran
mengalir sampai jauh
merayapi bibir pantai
di lebamnya pantai bibir

Abdul Waris daeng nyompa on 08/10/08 05.23 mengatakan...

menangislah..

apa perlu aku pinjamkan bahu
dan selusin gas airmata?


buaya terlanjur dikutuk sbgai reptil
yg g bisa terbang
so...melatalah
ke mana angin membawamu bertualang

jika tak juga damai dg tangis
merintihlah
atau setidaknya temukan jalur pintas
ke altar para pecundang
seperti-ku

Abdul Waris daeng nyompa on 08/10/08 05.24 mengatakan...

.......
rintihan dan tangisan harus disembunyikan
sebab di wajah bumi
pemelasan tidak pernah mendapat tempat
hanya sangsakala satria yang mendapat tempat
hanya sangsakala satria yang mampu
mengubah wajah dunia.

Apa kabar hari ini sahabat..

>>abdulwaris.blogspot.com

ToKonjo on 11/10/08 23.44 mengatakan...

sumpah serapahmu adalah nyanyian
merdu mengalun merayapi kekosongan hati
mengingatkan aku akan hadirmu dulu
kebersamaan yang tidak mungkin berulang

terima kasih saudaraku....
kau jenguk juga rumahku ini
yang sesak dengan keluh kesahku


Posting Komentar