10 Desember 2007

Lelaki Yang Berjalan Mengendap

Sebuah cerpen: Andhika Mappasomba (Sastrawan Muda Makassar)

Lelaki itu selalu datang dengan berjalan mengendap-endap nyaris tanpa suara. Ia tak bisa ditebak oleh siapapun tentang kehadirannya yang selalu mengundang banyak pertanyaan pada setiap mata yang sempat melihatnya. Dan kepergiannya pun selalu menyisakan tanya tentang sosoknya yang tak lazim. Ia sangat sering muncul pada moment penting di kota ini. Entah itu kematian, seminar publik, pagelaran-pagelaran seni, persidangan para koruptor, di tengah-tengah demonstrasi, tawuran massal, hajatan orang-orang pinggiran, kecelakaan lalu lintas dan banyak lagi. Beberapakali sosoknya menjadi topik berita di koran ibu kota.
Lebih dari sepuluh kali aku pernah melihat lelaki itu. Namun, perbincangan tentang sosoknya bukanlah buah bibir yang lekas basi dan membusuk tapi, sosoknya adalah buah yang selalu segar dan matang dalam kabar berita. Setiap hari akan selalu saja tersaji sebuah cerita segar dari warung kopi, kantin kampus, pasar, bahkan di ruang kantor-kantor instansi X tentang lelaki itu. Entah siapa yang selalu menghembuskan sosok dirinya sejak awal hari?. Inilah misteri yang tak pernah terjawab.
** *** **

Dalam sebulan ini, tak kurang dari dua puluh sembilan jenis cerita dengan topik yang berbeda tentang lelaki itu. Aku mendengarnya dari mulut yang tak henti menebar gossip keresahan hidup. Ada yang pernah melihat lelaki itu mengikuti sebuah seminar tentang filsafat dan POLITIK di salah satu hotel berbintang di kota ini. Konon, lelaki itu datang sendiri dan mengikuti seminar itu hingga tuntas tanpa pernah berkata-kata. Ada yang pernah melihatnya sedang sedih dan nampak murung duduk terpaku di halte kampus di sore hari. Ada yang pernah melihatnya ikut dalam pawai para demonstran berjalan kaki dengan mengendap-endap keliling kota untuk menolak MORATORIUM utang dan PROTES kenaikan BBM. Ada yang pernah melihatnya sedang memancing di sebuah teluk yang menurut sebagian orang kalau laut itu telah tercemari RACUN. Ada yang pernah mendengar kabar bahwa lelaki itu ditangkap petugas karena dicurigai sebagai mata-mata TERORIS. Ada yang pernah melihatnya sedang berada di AMERIKA berjalan mengendap santai di sekitar taman patung Liberty. Ada yang pernah bertemu dengannya di MABES POLRI. Ada yang pernah bertemu dengannya di ISTANA NEGARA. Ada yang pernah bertemu di kantor DPR-MPR-RI. Ada yang pernah numpang di becak yang dikemudikannya. Ada yang pernah menjadi penumpang di angkot yang disetirnya. Ada yang pernah mendengar kabarnya bahwa lelaki itu ikut menjadi relawan ke Aceh. Ada yang pernah melihatnya menjadi pembicara pada sebuah seminar tentang MILITER di SINGAPURA. Ada yang pernah mengikuti ceramahnya di sebuah pesantren di tanah Pasundan. Ada yang pernah melihatnya menjadi pemeran utama pada pementasan teater tanpa kata, dan segudang cerita lainnya tentang lelaki misterius itu. Tak pernah basi dan ada habisnya.
** *** **

Aku melihat lelaki itu berjalan mengendap kearah pinggiran kota yang sunyi. Aku membuntutinya juga dengan langkah yang mengendap. Ia berjalan sangat pelan. Kakinya sangat lembut ketika menyentuh bumi. Tubuhnya yang terbungkus jaket hitam tebal menambah kemisteriusannya bagiku. Setengah jam sudah aku membuntuti langkah lelaki itu. Namun, belum ada tanda-tanda bahwa ia akan berhenti.
Malam semakin dalam. Langit yang tanpa bulan sepotong pun membuatku agak ngeri dengan suasana yang senyap. Lelaki itu terus berjalan dengan mengendap seperti tak berujung. Aku menyerah karena lelah dan berbalik arah. Pulang.
** *** **

Setahun sudah peristiwa ketika aku membuntuti lelaki itu berlalu. Namun, cerita tentang sosoknya yang misterius dan kehadirannya yang selalu berjalan mengendap itu tak pernah sirna dalam gossip keresahan hidup. Bahkan, sosoknya kini semakin dibahas luas oleh para pakar Psikologi, Politik, Sosiolog, dan pakar lainnya dari berbagai sudut pandang di berbagai media cetak dan elektronik. Lelaki itu tidak hanya populer di kota ini. Tapi media massa di seantero negeri dan negara tetangga telah menjadikannya berita hangat dan bersambung nyaris setiap hari. Beberapa kepala daerah dan pejabat negara lainnya pernah mengundangnya secara khusus. Tapi, lelaki itu tak pernah datang memenuhi satu undangan pun. Tak ada seorang pun yang tahu alasan ketidakhadiranya
** *** **

Fenomena lelaki yang selalu berjalan mengendap itu telah membuat banyak orang menjadi tergila-gila akan beritanya. Koran-koran yang terbit di seantero negeri selalu habis terjual sejak dini hari. Koran yang tak memuat beritanya dalam sehari akan dimaki oleh pelanggannya. Akhirnya, banyak wartawan yang menjadi gila karena sering dimaki oleh atasannya bila terlambat berburu gosip lelaki misterius itu. Namun, wartawan yang pandai berbohong dan mengarang berita akan selamat dari makian atasan dan pemecatan tak jelas alasannya.
** *** **

Setelah berita tentang lelaki itu dinyatakan terlarang oleh pemerintah lima bulan lalu dengan alasan SARA, berita tentang lelaki itu pun tak pernah muncul lagi. Cerita tentang lelaki itu pun seperti pergi dengan berjalan mengendap-endap tanpa suara.
** *** **

Aku terus melacak informasi tentang kehadiran lelaki misterius itu dari berbagai sumber yang dapat kupercaya dengan diam-diam. Kadang aku harus ke perkampungan penduduk desa yang sangat terpencil, pulau asing, bahkan pegunungan terjal dan agak tandus dan panas. Aku tak pernah menemukannya.
Dalam keputusasaanku mencari lelaki misterius itu selama bertahun-tahun, hingga kini lelaki itu selalu datang dalam mimpi malamku. Walau tak ada lagi kabar dan orang yang menggosipkan dirinya dalam keresahan hidup, aku selalu berharap bahwa kelak, lelaki itu akan datang dengan berjalan mengendap menghampiri aku di kamar kecil yang bercat putih ini.
** *** **

Aku telah jatuh cinta pada lelaki misterius itu. Sampai kapan pun jika Ia tak datang, aku tak akan berhenti menulis tentang kerinduanku pada langkah kakinya yang mengendap-endap dengan tubuh yang terbungkus jaket hitam.

Di sini tak ada yang mau bicara denganku. Mereka menganggap aku gila. Tapi, biarlah. Sebab aku sadar bahwa di dunia yang telah dibuat gila ini, hanya akulah yang sadar. Satu-satunya yang membuat aku merasa betah di tempat ini adalah dikarenakan mereka tak pernah melarang aku tertawa tanpa sebab dan berteriak membaca mantra dan puisi cinta tentang kerinduanku pada lelakiku yang selalu datang dan pergi dengan berjalan mengendap-endap dalam realitas hidup yang diendapkan

Makassar,13/01/2005
Jika cerita ini belum selesai, kami persilahkan pembaca menafsirkan atau bahkan menulis kelanjutannya. Atau memang cerita berakhir di situ...

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Salam kenal bung :)

http://ayambakarbuncit.wordpress.com/


Posting Komentar