02 Oktober 2009

PUANGKU

Inilah PUANGKU (panggilanku untuk ayahku), dengan setelan jasnya. Gambar ini diambil tahun 2005 saat aku Wisuda S1 di Universitas Negeri Makassar (UNM). Seingatku, PUANG baru dua kali mengenakan setelan jas lengkap, yang pertama waktu aku wisuda itu dan yang kedua saat aku menikah bulan Mei 2009 kemarin.

PUANG, bukan pejabat, bukan pegawai negeri atau pun swasta. PUANG hanyalah seorang petani yang menggarap tanah miliknya yang hanya 1/4 hektar. Dengan tanah seluas itu PUANG menghidupi aku, ibuku, dan adik perempuanku. Tanah itu tentu saja tidak cukup untuk mengganjal perut kami agar tetap bisa bertahan hidup. Untuk itu, PUANG harus mencari sumber makan yang lain. Waktu aku kecil, PUANG membuat sapu ijuk dan menjualnya ke pasar dengan berjalan kaki sekitar 8 - 10 km. Puang rela berjalan kaki agar uangnya tersimpan untuk membeli kebutuhan kami sekeluarga katanya.

Jika musim panen padi tiba, maka PUANG berubah profesi jadi buruh. Membantu orang yang memiliki sawah memanen padi dengan imbalan gabah tentunya. Itulah yang menyambung hidup kami sehingga tidak kehabisan beras karena beras belum habis, musim panen datang lagi dan PUANG kembali menjadi buruh. Begitu seterusnya.

Beban paling berat dipikul PUANG saat aku kuliah yang membutuhkan banyak biaya. Di usianya yang semakin tua, PUANG masih tetap semangat untuk membuatku berhasil. Untungnya aku dapat beasiswa sejak semester I, sehingga beban PUANG sedikit ringan. Tetapi tetap saja PUANG harus pontang panting untuk membiayai kuliahku. Sejak aku kuliah puang beralih profesi, selain tetap menggarap tanahnya yang 1/4 hektar, PUANG membuat atap dari daun rumbia yang kemudian dijualnya. Dari penghasilannya itulah aku bisa menjadi Sarjana. Dan betapa bangga dan bersemangatnya PUANG mengikuti prosesi Wisudaku di Makassar yang berjarak 200 km dari kampungku. Itulah pengalaman pertama puang meninggalkan kampung naik mobil sejauh itu.

Setelah selesai kuliah, aku kemudian mendapat rezeki lulus PNS di Parepare yang jaraknya sekitar 400 km dari kampung halaman. Jadilah aku jauh dari PUANG dan keluarga meski aku berada jauh atas restu mereka juga.

Mengapa aku tergerak menceritakan ini, karena besok aku akan pulang menengok PUANG. PUANG sedang sakit dan sepertinya harus dibawa ke rumah sakit. Sudah seharunya semuanya dibalik, aku yang mengurus PUANG tidak lagi seperti dulu. Andai Tuhan mengijinkan, aku ingin segera memiliki rumah sendiri di kota tempatku bekerja agar bisa memboyong keluargaku ke sini, agar aku bisa menjaga mereka dan mencukupi segala kebutuhannya. Amin. Untuk teman-teman yang sempat membaca cerita ini, tolong minta doanya semoga PUANGKU tidak apa-apa.

AKU sayang PUANG...
Semoga semangat PUANG yang menyala-nyala ketika berbicara haji, bisa aku wujudkan dan memberangkatkan PUANG ke tanah suci. Amin. Beri aku kemampuan untuk itu Ya... ALLAH...

2 komentar:

Bugishq Blog on 03/10/09 15.46 mengatakan...

Sebuah cerita yang menggugah hati saya, dan teringat juga dengan keluarga di Bulukumba, Sy mendoakan semoga "Puang" cepat sembuh, Amin... doa yang tulus akan penuh dengan berkah

Syarief ToKonjo on 12/10/09 19.19 mengatakan...

Terima Kasih banyak Kanda atas doanya. Alhamdulillah PUANG sudah mulai pulih. Cerita ini kenyataan hidupku dan mungkin jg banyak dialami banyak keluarga di Bulukumba


Posting Komentar