16 Februari 2011

Indonesiaku, Nasibmu Kini

Entah apa yang terjadi di negeri ini, negeri yang katanya menjunjung tinggi perikemanusiaan, negeri yang ramah, santun dan beradab. Namun, peristiwa-peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini seakan menghapus image tersebut yang telah terbangun bahkan sebelum Indonesia ada.

Setiap hari kita disuguhi peristiwa memilukan. Bentrokan dan pembunuhan sudah lazim, bahkan sudah menjadi menu santapan di media-media nasional. Demonstrasi yang seyogyanya untuk perbaikan tak jarang berujung anarkis dan mengorbankan nyawa, infrastruktur dan mengganggu aktivitas ekonomi.

Ada apa di negeri ini? Dimana nyawa seorang manusia seolah tidak berharga lagi. Tengoklah beberapa kekerasan yang menghilangkan nyawa orang lain bahkan dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Aku ngeri dengan moral bangsa ini yang semakin tak terkendali.

Jika ada yang harus bertanggung jawab, siapa? Pemerintahkah, yang telah gagal melindungi warga negaranya?. Aparatkah? yang telah gagal menghadirkan kenyamanan bagi warga negara? Ah... Aku bingung, setiap hari selain kekerasan yang muncul di media, didominasi oleh politisi yang mengatasnamakan rakyat untuk kepentingan diri dan partainya. Hukum yang selama ini jadi panglima justru jadi permainan.

Ada apa dengan negeri ini? Mungkin kami-kami yang menjadi abdi negara sebagai guru yang ikut gagal dalam menciptakan manusia yang seutuhnya. Karena ternyata banyak manusia yang lupa fitrahnya sebagai manusia dan lebih mirip dengan binatang. Ah aku tau... Ternyata kesalahan terbesar ada pada kami. Pendidikan telah gagal, maka wajar jika semua jadi seperti ini.

Tetapi tangisan negeri ini harus terhenti, harus.

2 komentar:

sprei murah on 19/10/11 20.45 mengatakan...

wow nice steady interesting and useful info, really nice blog
sprei anak

bali tour activities on 28/11/11 17.43 mengatakan...

setuju... dulu bangsa kita di jajah oleh kolonial, sekarang penjajahan itu datang dari pemimpin2 sendiri,, kita merdeka, tetapi hak kita di rampas,,, save our nation.......


Posting Komentar